Asia School of Business

Global Inquiry, Local Heart
Cultivating Digital Champions: ELDP is More Than Just a Training Programme

In a landmark moment for Malaysia’s digital ecosystem, the Ministry of Digital, MyDIGITAL Corporation, and the Asia School of Business (ASB) celebrated the graduation of 205 visionary leaders from the inaugural Executive Digital Leadership Programme (EDLP).

This isn’t just another training initiative—it’s a strategic blueprint for national digital transformation.

Breaking Barriers: A Holistic Approach to Digital Leadership

The EDLP stands out by offering a comprehensive curriculum that goes beyond traditional leadership training.

Participants were immersed in a cutting-edge programme covering emerging technologies, digital leadership, cybersecurity, and critical ethical considerations.

What sets this programme apart is its star-studded lineup of technology partners, including global giants like Microsoft, Google, IBM, Amazon Web Services, Shopee, and Cisco Systems.

Voices of Transformation: Participants Share Their Insights

The programme’s impact resonates across diverse sectors.

Foo Keat Hoe from Sarawak Shell Bhd described the experience as providing “a glimpse of everything, helping you view different perspectives on how things work across industries.”

This sentiment echoes the programme’s core mission of broadening technological perspectives and fostering cross-industry innovation.

A Strategic Investment in Leadership Excellence

Gobind Singh Deo, Minister of Digital, highlighted the programme’s significance: “These 205 exceptional individuals represent more than just graduates—they are architects of Malaysia’s digital future.”

This sentiment is backed by tangible outcomes, with participants developing actionable digital transformation roadmaps and building a robust network of innovation-driven leaders.

Beyond Training: Building a Digital Ecosystem

Adrian Marcellus, CEO of MyDIGITAL Corporation, stressed on the programme’s transformative potential.

“We’re not just training leaders; we’re creating an ecosystem of digitally empowered organisations,” he said.

The programme promises to drive better decision-making, create more agile operations, and accelerate market responsiveness.

Network and Collaboration: The Hidden Curriculum

Professor Sanjay Sarma, ASB’s President and Dean, underscored the importance of networking.

“The lifelong connections formed during EDLP will be crucial in continuously driving innovation and addressing real-world challenges,” he noted.

This emphasis on collaborative learning sets the program apart from traditional executive education models.

A Glimpse into the Future

The programme represents more than a training initiative—it’s a strategic investment in Malaysia’s digital sovereignty.

As Malaysia continues to position itself as a regional digital hub, the Executive Digital Leadership Programme stands as a beacon of innovation, collaboration, and forward-thinking leadership.

Originally published by Marketing Magazine Malaysia.

JAKARTA – Asia School of Business (ASB) bekerja sama dengan MIT Sloan School of Management melihat potensi dan tantangan yang besar untuk menghadapi pertumbuhan dan transformasi bisnis di Asia Tenggara.

ASB pun siap memberikan kesempatan kepada para profesional asal Indonesia untuk menjadi calon pemimpin bisnis masa depan di Asia Tenggara.  CEO, Presiden, dan Dekan ASB Sanjay Sarma menyatakan di era di mana kebutuhan Indonesia akan pemimpin bisnis yang berkualitas makin mendesak, maka program MBA (Master of Business
Administration) ASB menawarkan perpaduan langka antara pembelajaran teoretis dan praktis.

Sanjay menjelaskan program MBA ini memiliki durasi selama 12 bulan.  Program ini, kata dia, merupakan satu-satunya di kawasan ini yang menggabungkan pembelajaran akademis yang ketat dengan pengalaman langsung dalam action learning di seluruh Asia. Menurut Sanjay, program itu sejalan dengan momen penting Indonesia, di mana terjadinya peningkatan permintaan terhadap pemimpin bisnis yang terampil dan terus berkembang.

Sanjay melihat saat ini para pengusaha lokal semakin menghargai nilai pendidikan manajemen tingkat lanjut. “Diperkirakan 80 persen perusahaan di Indonesia yang kini mendukung karyawan mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi lulusan MBA, hal ini menjadi keuntungan besar karena gaji rata-rata setelah lulus MBA di Indonesia dilaporkan meningkat sebesar 25-40 persen, salah satu yang tertinggi di kawasan ini,” tuturnya.

Sanjay memahami adanya peningkatan permintaan regional untuk keterampilan dalam mengelola bisnis ini. Sebagai contoh, kata dia, pada 2024, rata-rata kenaikan gaji di Indonesia mencapai 6,5 persen dengan kenaikan serupa diperkirakan akan terjadi pada 2025, didorong oleh kekurangan talenta dan tekanan inflasi. “Hal ini menempatkan lulusan MBA dalam posisi yang unggul untuk memanfaatkan tren tersebut, terutama di bidang-bidang dengan pertumbuhan tinggi seperti teknologi, keuangan, dan manajemen,” ujarnya.

Sanjay mengatakan dengan desain praktis dari program maka memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dengan tantangan bisnis yang berlangsung di berbagai pasar serta memberikan landasan kuat untuk kepemimpinan yang efektif.  Adapun program kurikulum yang diberikan, kata dia, mencakup program imersif di MIT Sloan, serta proyek Action Learning di seluruh Asia Tenggara, yang memberikan beragam pengalaman yang jarang ditemui di program MBA tradisional. Untuk biaya program MBA ASB ini dipatok sekitar USD 35 ribu yang mencakup semua materi kuliah, akomodasi selama program Imersi di MIT, serta biaya perjalanan untuk proyek Action Learning di luar Malaysia. 

“Pendekatan komprehensif ini memastikan siswa mendapatkan dukungan penuh selama tahun studi yang intensif,” ujarnya. Lebih jauh ASB menawarkan ekstensi MBA+, yang memungkinkan siswa untuk melanjutkan satu semester tambahan atau bahkan meraih gelar Master of Science in Management Studies di MIT Sloan.  “Opsi ekstensi ini ditujukan bagi mereka yang ingin memperdalam keahlian di bidang bisnis tertentu, meningkatkan jalur karir, dan mempersiapkan diri untuk peran kepemimpinan,” kata Sanjay.

Salah satu lulusan ASB Ivan Ramdhani, dari Jakarta, mengatakan dia mendapatkan kesempatan belajar MBA di ASB ini sangat transformatif.  Kombinasi antara mata kuliah yang intensif, proyek Action Learning praktis, dan imersi di MIT Sloan memberikannya wawasan yang komprehensif tentang praktik bisnis global dan regional. “Pengalaman holistik ini tidak hanya memperluas perspektif saya, tetapi juga berperan penting dalam membangun peran kepemimpinan saya saat ini,” kata Ivan.

Originally published by JPNN.

Jakarta, Jurnas.com- Asia School of Business (ASB) siap memberikan kesempatan kepada para profesional asal Indonesia untuk menjadi calon pemimpin bisnis masa depan di Asia Tenggara. Bekerjasama dengan MIT Sloan School of Management, ASB melihat potensi dan tantangan yang besar untuk menghadapi pertumbuhan dan transformasi bisnis di Asia Tenggara.

“Di era di mana kebutuhan Indonesia akan pemimpin bisnis yang berkualitas semakin mendesak, maka program MBA (Master of Business Administration) ASB menawarkan perpaduan langka antara pembelajaran teoretis dan praktis,” kata Sanjay Sarma, CEO, Presiden, dan Dekan ASB, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, baru-baru ini.

Sanjay menjelaskan program MBA ini memiliki durasi selama 12 bulan. Program ini, kata dia, merupakan satu-satunya di kawasan ini yang menggabungkan pembelajaran akademis yang ketat dengan pengalaman langsung dalam action learning di seluruh Asia.

Ajakan pendaftaran ini, menurut Sanjay, sejalan dengan momen penting Indonesia, dimana terjadinya peningkatan permintaan terhadap pemimpin bisnis yang terampil dan terus berkembang. Ia melihat saat ini para pengusaha lokal semakin menghargai nilai pendidikan manajemen tingkat lanjut.

“Diperkirakan 80% perusahaan di Indonesia yang kini mendukung karyawan mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi lulusan MBA, hal ini menjadi keuntungan besar karena gaji rata-rata setelah lulus MBA di Indonesia dilaporkan meningkat sebesar 25-40%, salah satu yang tertinggi di kawasan ini,” tuturnya.

Sanjay memahami adanya peningkatan permintaan regional untuk keterampilan dalam mengelola bisnis ini. Sebagai contoh, kata dia, pada 2024, rata-rata kenaikan gaji di Indonesia mencapai 6,5%, dengan kenaikan serupa diperkirakan akan terjadi pada 2025, didorong oleh kekurangan talenta dan tekanan inflasi.

“Hal ini menempatkan lulusan MBA dalam posisi yang unggul untuk memanfaatkan tren tersebut, terutama di bidang-bidang dengan pertumbuhan tinggi seperti teknologi, keuangan, dan manajemen,” paparnya.

Sanjay mengatakan dengan desain praktis dari program maka memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dengan tantangan bisnis yang berlangsung di berbagai pasar serta memberikan landasan kuat untuk kepemimpinan yang efektif. Untuk program kurikulum yang diberikan, kata dia, mencakup program imersif di MIT Sloan, serta proyek Action Learning di seluruh Asia Tenggara, yang memberikan beragam pengalaman yang jarang ditemui di program MBA tradisional.

Untuk biaya program MBA ASB ini dipatok sekitar USD 35.000. Di dalamnya mencakup semua materi kuliah, akomodasi selama program Imersi di MIT, serta biaya perjalanan untuk proyek Action Learning di luar Malaysia. “Pendekatan komprehensif ini memastikan siswa mendapatkan dukungan penuh selama tahun studi yang intensif,” tandasnya.

Originally published by Jurnas.

JAKARTA, – Jakarta.Suaramerdeka.com, – Asia School of Business (ASB) siap memberikan kesempatan kepada para profesional asal Indonesia untuk menjadi calon pemimpin bisnis masa depan di Asia Tenggara. Bekerjasama dengan MIT Sloan School of Management, ASB melihat potensi dan tantangan yang besar untuk menghadapi pertumbuhan dan transformasi bisnis di Asia Tenggara.

“Di era di mana kebutuhan Indonesia akan pemimpin bisnis yang berkualitas semakin mendesak, maka program MBA (Master of Business Administration) ASB menawarkan perpaduan langka antara pembelajaran teoretis dan praktis,” kata Sanjay Sarma, CEO, Presiden, dan Dekan ASB, di Jakarta baru-baru ini.

Sanjay menjelaskan program MBA ini memiliki durasi selama 12 bulan. Program ini, kata dia, merupakan satu-satunya di kawasan ini yang menggabungkan pembelajaran akademis yang ketat dengan pengalaman langsung dalam action learning di seluruh Asia.

Ajakan pendaftaran ini, menurut Sanjay, sejalan dengan momen penting Indonesia, dimana terjadinya peningkatan permintaan terhadap pemimpin bisnis yang terampil dan terus berkembang. Ia melihat saat ini para pengusaha lokal semakin menghargai nilai pendidikan manajemen tingkat lanjut.

“Diperkirakan 80% perusahaan di Indonesia yang kini mendukung karyawan mereka untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi lulusan MBA, hal ini menjadi keuntungan besar karena gaji rata-rata setelah lulus MBA di Indonesia dilaporkan meningkat sebesar 25-40%, salah satu yang tertinggi di kawasan ini,” tuturnya.

Sanjay memahami adanya peningkatan permintaan regional untuk keterampilan dalam mengelola bisnis ini. Sebagai contoh, kata dia, pada 2024, rata-rata kenaikan gaji di Indonesia mencapai 6,5%, dengan kenaikan serupa diperkirakan akan terjadi pada 2025, didorong oleh kekurangan talenta dan tekanan inflasi.

“Hal ini menempatkan lulusan MBA dalam posisi yang unggul untuk memanfaatkan tren tersebut, terutama di bidang-bidang dengan pertumbuhan tinggi seperti teknologi, keuangan, dan manajemen,” ujarnya.

Sanjay mengatakan dengan desain praktis dari program maka memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dengan tantangan bisnis yang berlangsung di berbagai pasar serta memberikan landasan kuat untuk kepemimpinan yang efektif.

Untuk program kurikulum yang diberikan, kata dia, mencakup program imersif di MIT Sloan, serta proyek Action Learning di seluruh Asia Tenggara, yang memberikan beragam pengalaman yang jarang ditemui di program MBA tradisional.

Untuk biaya program MBA ASB ini dipatok sekitar USD 35.000. Di dalamnya mencakup semua materi kuliah, akomodasi selama program Imersi di MIT, serta biaya perjalanan untuk proyek Action Learning di luar Malaysia.

“Pendekatan komprehensif ini memastikan siswa mendapatkan dukungan penuh selama tahun studi yang intensif,” ujarnya.

Lebih jauh ASB menawarkan ekstensi MBA+, yang memungkinkan siswa untuk melanjutkan satu semester tambahan atau bahkan meraih gelar Master of Science in Management Studies di MIT Sloan. “Opsi ekstensi ini ditujukan bagi mereka yang ingin memperdalam keahlian di bidang bisnis tertentu, meningkatkan jalur karir, dan mempersiapkan diri untuk peran kepemimpinan,” kata Sanjay.

Mengingat pengalamannya, lulusan baru Ivan Ramdhani, 37, dari Jakarta, mengatakan, mendapatkan kesempatan belajar MBA di ASB ini sangat transformatif. Kombinasi antara mata kuliah yang intensif, proyek Action Learning praktis, dan imersi di MIT Sloan memberikannya wawasan yang komprehensif tentang praktik bisnis global dan regional.

“Pengalaman holistik ini tidak hanya memperluas perspektif saya, tetapi juga berperan penting dalam membangun peran kepemimpinan saya saat ini,” katanya.

Sanjay mengatakan komitmen ASB terhadap pembelajaran seumur hidup melampaui program MBA inti yang ditawarkan. Melalui inisiatif Agile Continuous Education (ACE), para profesional dapat mengakses kursus fleksibel yang dapat diambil sesuai permintaan, dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan beradaptasi dengan pasar kerja yang terus berkembang.

Originally published by Suara Merdeka.

JAKARTADAILY.ID – The Asia School of Business (ASB), in partnership with the MIT Sloan School of Management, invites Indonesian professionals to apply for its unique 12-month MBA program. The program, the only one of its kind in Southeast Asia, combines rigorous academic coursework with hands-on Action Learning projects across the region.

Various research indicates that Indonesia is facing a growing demand for skilled business leaders, with local companies increasingly supporting employees pursuing higher education. An estimated 80% of businesses in the country back such initiatives, while MBA graduates see average salary increases of 25–40 percent, among the highest in the region.

“In an era where Indonesia’s need for qualified business leaders is more critical than ever, ASB’s MBA program offers a rare combination of theoretical and practical learning,” said Sanjay Sarma, CEO, President, and Dean of ASB.

The program includes an immersive experience at MIT Sloan in Cambridge, Massachusetts, and Action Learning projects across Southeast Asia, providing participants with a blend of global and regional insights. Tuition is set at $35,000, covering course materials, accommodation during the MIT immersion, and travel for international projects.

For those seeking additional expertise, ASB offers an MBA+ extension, allowing students to pursue an extra semester or a Master of Science in Management Studies at MIT Sloan.

Jakarta-based graduate Ivan Ramdhani, 37, praised the program’s impact.

“The ASB MBA experience was transformative. The combination of intensive coursework, practical Action Learning projects, and the MIT Sloan immersion provided me with a comprehensive understanding of global and regional business practices. This holistic experience not only broadened my perspective but also played a crucial role in securing my current leadership role,” he said.

Originally published by Jakarta Daily.